MENGHAPUS SEKAT JURUSAN DI SMA SAMA SAJA MENGURANGI NALAR KRITIS PESERTA DIDIK, BENARKAH?
Baru-baru ini, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan,
Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) meluncurkan suatu kebijakan baru,
yaitu menghapus sistem penjurusan di SMA.Kebijakan ini juga sebagai bagian dari program
kurikulum baru yang akan diterapkan pada tahun ini. Jadi, tidak ada lagi yang
namanya kelas jurusan IPA, IPS, maupun Bahasa di lingkungan pendidikan SMA.
Dengan adanya kebijakan ini, banyak pro dan kontra yang bermunculan di kalangan
masyarakat.
Kubu
pro menilai bahwa kebijakan tersebut merupakan suatu langkah yang revolusioner.
Sistem penjurusan di SMA selama ini justru menimbulkan berbagai macam stigma
negatif yang mencoreng dunia pendidikan, seperti adanya kesan superior di
jurusan tertentu.
Seperti yang diketahui, jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan
Alam) selama selalu dianggap superior. Banyak orang tua yang meyakini bahwa
jika anaknya menyandang status sebagai "anak IPA", maka kesuksesan
mereka lebih terjamin daripada jurusan lain seperti IPS atau bahkan Bahasa.
Jadi, dengan adanya kebijakan penghapusan sekat
jurusan, stigma tersebut akan menghilang. Selanjutnya, penghapusan jurusan akan
semakin memperkecil peluang peserta didik untuk melakukan lintas jurusan pada
saat menjelang ujian masuk kampus.
Banyak peserta didik yang merasa salah jurusan (entah karena gengsi atau terpaksa) dan akhirnya memilih jurusan kuliah yang berbeda dengan jurusan saat di SMA. Selain itu, para peserta didik dapat jauh lebih leluasa dalam belajar dan mengeksplorasi dirinya.
Banyak peserta didik yang merasa salah jurusan (entah karena gengsi atau terpaksa) dan akhirnya memilih jurusan kuliah yang berbeda dengan jurusan saat di SMA. Selain itu, para peserta didik dapat jauh lebih leluasa dalam belajar dan mengeksplorasi dirinya.
Bagi kubu kontra, sistem penghapusan jurusan ini
kurang efektif jika dilihat dari keadaan masyarakat Indonesia sekarang. Apalagi
dengan kurangnya pedoman bagi peserta didik untuk memilih mata pelajaran yang
sesuai dengan minat, bakat, atau cita-citanya.
Salah satu pakar pendidikan dari Persatuan Keluarga Besar Taman Siswa (PKBTS), Darmaningtyas, menyatakan bahwa dengan dibebaskannya para peserta didik untuk memilih mata pelajaran justru dapat berpengaruh terhadap daya nalar mereka.
Sebagai contoh semisal peserta didik hanya memilih mata pelajaran ranah IPS, maka mereka tidak akan mendapat ilmu bagaimana cara berpikir kritis dan analitis seperti yang diajarkan di pelajaran ranah IPA. Dia juga berpendapat bahwa mereka juga akan berpotensi mudah terpapar berita palsu/hoaks.
Salah satu pakar pendidikan dari Persatuan Keluarga Besar Taman Siswa (PKBTS), Darmaningtyas, menyatakan bahwa dengan dibebaskannya para peserta didik untuk memilih mata pelajaran justru dapat berpengaruh terhadap daya nalar mereka.
Sebagai contoh semisal peserta didik hanya memilih mata pelajaran ranah IPS, maka mereka tidak akan mendapat ilmu bagaimana cara berpikir kritis dan analitis seperti yang diajarkan di pelajaran ranah IPA. Dia juga berpendapat bahwa mereka juga akan berpotensi mudah terpapar berita palsu/hoaks.
0 Response to "MENGHAPUS SEKAT JURUSAN DI SMA SAMA SAJA MENGURANGI NALAR KRITIS PESERTA DIDIK, BENARKAH?"
Posting Komentar